Postingan

Menampilkan postingan dengan label andiwi

Menjadi Langit

Aku tidak mengerti.  Sekarang pukul dua puluh tiga lewat lima. Tak ada waktu yang benar-benar tepat. Kini, bisa kau bayangkan, aku sedang duduk dan memikirkanmu. Satu jam lalu, aku berpikir, kau duduk dan menunduk membaca pikiranmu sendiri. Seorang ibu mungkin saja kesal ketika anak balitanya suka menghibur diri dengan cara menguyah handpone  miliknya. Aku sedang menghibur diriku sendiri untuk mengembalikkan kepercayaanku. Asal tuhan mau menjamin –keselamatan orang-orang yang kesepian— aku pun mau sekedar mengunyah sebatang handpone . Tapi kupikir tindakan itu terdengar seperti kambing kelaparan dan putus asa yang tak menemukan rumput.  Orang-orang menghabiskan besar waktunya hanya untuk mendapati diri mereka berada di toilet, lampu merah, atau sekedar mengetik pesan yang tak pernah berani mereka kirim.  Aku bisa saja orang yang paling kau benci. Tapi kau tak pernah mengatakannya. Kau adalah orang yang paling kucintai, tapi aku tak pernah sanggup mengataka...

Yesterday

Seumur hidup aku bermain. Mendengarkan orang lain. Kadang bicara, tapi aku lebih suka diam. Bukan karena aku benar-benar pendiam. Aku tak menyukai kata-kata itu. Rasanya, jika aku mulai banyak bicara, aku telah berubah menjadi bukan aku.  Tak ada yang salah dari ibu dan ayahku. Mereka mengajari anaknya dengan sangat baik; membaca kesedihan mereka, mengusap airmata, menghitung peluang menjadi juara, menenangkan kekalahan mereka, mengajari menggambar dan melarang anaknya menjauhi api di belakang rumah. Mereka memberikan apa yang anaknya butuhkan. Dan kurasa, kelak, surga adalah tempat pantas untuk mereka. Aku tak tahu, apa mereka juga akan membentakku dari tempat jauh saat aku berada dan bermain api di neraka?  Aku telah lama bermain. Apakah aku akan berpikir bahwa aku akan menghentikannya? Jangan bertanya padaku soal itu. Sebab aku hanya akan diam. Di luar kesadaranku, orang-orang juga bermain bersamaku. Aku katakan seperti itu, karena baru-baru ini aku menyadarinya. Ia menyuka...

Malam Minggu Bersama Hyena-hyenamu

   Aku tahu, ini pasti melelahkan bagimu, tapi, aku yakin kau di pihak yang benar. Kita akan melewati malam ini, dengan perasaan damai seperti malam Minggu sebelum kita memilikinya dan kehilangan karena tak terbiasa tanpa mereka.  Sentuh apa pun yang ingin kau jangkau. Sejauh harapan itu cuma angan-angan sama sekali bukan masalah. Seperti apa jadinya nanti, aku janji ini tak akan berakhir dengan buruk.     Kau bisa mengalihkan perhatianmu dengan memutuskan diri turun ke jalan. Jika kau punya teman yang lebih mirip dan lebih bisa memahamimu dari pada dirimu sendiri, pilihlah, bergabunglah dengan mereka seperti kau adalah kau seekor hyena. Mereka akan menyukaimu jika kau mampu menyalak dengan melengking. Berkontribusilah. Melolonglah semampu bisa kau harapkan sampai urat lehermu sebesar biji pensil yang diselipkan di antara leher manusia. Keluarkan semua bunyi-bunyian yang kau punya. Keluarkan semua sisi burukmu saat bersama mereka. Beberapa temanmu akan bi...

Di Bawah Pohon Hijau

kulepaskan juga kaki-kakiku yang kasar dan pendek-pendek seperti woodduck* supaya kau bisa lari lebih cepat tanpa aku sanggup mengejarmu karena perutku yang gendut tak punya alasan ingin langsing lari. lari. larilah. seakan itu caramu hidup agar tak dimangsa hidup. sambil mendoakanmu: selamat di bawah pohon hijau aku akan belajar menggambar langit yang nasibnya selalu sunyi memasak, mematik api dari gigi limau dan bisa taringku aku akan belajar menjahit sarung tangan di musim dingin seperti pernah menjadi seorang suku ekskimo yang tahan badai dan rencana -rencana tuhan untuk dipeluk di jalan tegak dan landai bersama remah-remah kerikil-kerikil dan batu-batu kelak, akan kubuat runtukan itu rumah bagi pemakaman masa lalu kita di bawah pohon hijau di bawah pohon hijau kau bisa menjenguknya. (April, 2017) __ *) woodduck adalah jenis gajah berkaki pendek dan bertubuh gempal dan gendut.