Teman Dunia Maya
[Cerpen] Teman Dunia Maya Jendela terdengar membuka menutup. Sontak aku terbangun dari mimpi buruk, sekujur tubuhku dibanjiri keringat dingin bermanik-manik. Dengan malas aku bangkit dari ranjang, memberanikan diri menatap keluar. Langit terlihat menyeramkan, perpaduan dari gumpalan awan pekat hamil tua bercampur warna merah saga. Angin menyiksa pasir dan dedaunan, ombak bergulung dasyat menyisakan buih lebih luas dari biasanya. Sulit memejamkan mata. Yang kulakukan cuma menatap lukisan gadis indo di dinding kamarku dengan ngeri. Aku tak mau lagi melukis wanita secantik Luvina Flower Jasmine Desmond. Dengan mata biru, kulit pucat dan bibir semerah darah dia nampak menyeramkan. Oh, Tuhan, sudah beruntung pada hari Kamis malam, Flow tidak keluar dari sana untuk mencekikku. Baiklah. Hal kedua yang kulakukan begitu terjaga adalah bertanya. Kenapa Lintang menghilang? Seribu kali aku bertanya demikian. Rasanya belum pantas bercerita kalau aku sangat akrab dengan Lintang. ...