Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Teman Dunia Maya

[Cerpen] Teman Dunia Maya Jendela terdengar membuka menutup. Sontak aku terbangun dari mimpi buruk, sekujur tubuhku dibanjiri keringat dingin bermanik-manik. Dengan malas aku bangkit dari ranjang, memberanikan diri menatap keluar. Langit terlihat menyeramkan, perpaduan dari gumpalan awan pekat hamil tua bercampur warna merah saga. Angin menyiksa pasir dan dedaunan, ombak bergulung dasyat menyisakan buih lebih luas dari biasanya. Sulit memejamkan mata. Yang kulakukan cuma menatap lukisan gadis indo di dinding kamarku dengan ngeri. Aku tak mau lagi melukis wanita secantik Luvina Flower Jasmine Desmond. Dengan mata biru, kulit pucat dan bibir semerah darah dia nampak menyeramkan. Oh, Tuhan, sudah beruntung pada hari Kamis malam, Flow tidak keluar dari sana untuk mencekikku. Baiklah. Hal kedua yang kulakukan begitu terjaga adalah bertanya. Kenapa Lintang menghilang? Seribu kali aku bertanya demikian. Rasanya belum pantas bercerita kalau aku sangat akrab dengan Lintang. ...

Menjadi Langit

Aku tidak mengerti.  Sekarang pukul dua puluh tiga lewat lima. Tak ada waktu yang benar-benar tepat. Kini, bisa kau bayangkan, aku sedang duduk dan memikirkanmu. Satu jam lalu, aku berpikir, kau duduk dan menunduk membaca pikiranmu sendiri. Seorang ibu mungkin saja kesal ketika anak balitanya suka menghibur diri dengan cara menguyah handpone  miliknya. Aku sedang menghibur diriku sendiri untuk mengembalikkan kepercayaanku. Asal tuhan mau menjamin –keselamatan orang-orang yang kesepian— aku pun mau sekedar mengunyah sebatang handpone . Tapi kupikir tindakan itu terdengar seperti kambing kelaparan dan putus asa yang tak menemukan rumput.  Orang-orang menghabiskan besar waktunya hanya untuk mendapati diri mereka berada di toilet, lampu merah, atau sekedar mengetik pesan yang tak pernah berani mereka kirim.  Aku bisa saja orang yang paling kau benci. Tapi kau tak pernah mengatakannya. Kau adalah orang yang paling kucintai, tapi aku tak pernah sanggup mengataka...

Yesterday

Seumur hidup aku bermain. Mendengarkan orang lain. Kadang bicara, tapi aku lebih suka diam. Bukan karena aku benar-benar pendiam. Aku tak menyukai kata-kata itu. Rasanya, jika aku mulai banyak bicara, aku telah berubah menjadi bukan aku.  Tak ada yang salah dari ibu dan ayahku. Mereka mengajari anaknya dengan sangat baik; membaca kesedihan mereka, mengusap airmata, menghitung peluang menjadi juara, menenangkan kekalahan mereka, mengajari menggambar dan melarang anaknya menjauhi api di belakang rumah. Mereka memberikan apa yang anaknya butuhkan. Dan kurasa, kelak, surga adalah tempat pantas untuk mereka. Aku tak tahu, apa mereka juga akan membentakku dari tempat jauh saat aku berada dan bermain api di neraka?  Aku telah lama bermain. Apakah aku akan berpikir bahwa aku akan menghentikannya? Jangan bertanya padaku soal itu. Sebab aku hanya akan diam. Di luar kesadaranku, orang-orang juga bermain bersamaku. Aku katakan seperti itu, karena baru-baru ini aku menyadarinya. Ia menyuka...

Malam Minggu Bersama Hyena-hyenamu

   Aku tahu, ini pasti melelahkan bagimu, tapi, aku yakin kau di pihak yang benar. Kita akan melewati malam ini, dengan perasaan damai seperti malam Minggu sebelum kita memilikinya dan kehilangan karena tak terbiasa tanpa mereka.  Sentuh apa pun yang ingin kau jangkau. Sejauh harapan itu cuma angan-angan sama sekali bukan masalah. Seperti apa jadinya nanti, aku janji ini tak akan berakhir dengan buruk.     Kau bisa mengalihkan perhatianmu dengan memutuskan diri turun ke jalan. Jika kau punya teman yang lebih mirip dan lebih bisa memahamimu dari pada dirimu sendiri, pilihlah, bergabunglah dengan mereka seperti kau adalah kau seekor hyena. Mereka akan menyukaimu jika kau mampu menyalak dengan melengking. Berkontribusilah. Melolonglah semampu bisa kau harapkan sampai urat lehermu sebesar biji pensil yang diselipkan di antara leher manusia. Keluarkan semua bunyi-bunyian yang kau punya. Keluarkan semua sisi burukmu saat bersama mereka. Beberapa temanmu akan bi...