Postingan

Pertanyaan-pertanyaan yang Tenggelam

Gambar
Di jalan, di sebuah gang kecil, sehelai kertas berwarna putih mangkak tertiup angin. Ia terbang merendah. Lalu seolah memilki sepasang sayap untuk hinggap, selembar kertas itu menukik lantas mendarat di bawah kaki saya. “Kau boleh saja memutuskan tidak menikah sampai akhir hanyat. Itu bukanlah ide buruk. Segala kekacauan di muka bumi ini memang terjadi karena perkara sepele. Salah-salah mengingat batas teritorial kita misalnya. Atau, jika kau ingin alasan yang lebih sepele—kalau kau cukup bernyali—datang dan pergi ke Istana Negara tepat di hari Senin. Lalu panjat tiang bendera yang ada di sana dan membaliknya dengan warna bendera Polandia. Mereka mungkin akan menghargai usahamu sebagai orang gila dan sebagai gantinya kau akan dipukuli hingga hampir mati. Dan saat itulah kau akan paham apa yang sedang kita bicarakan. "Orang-orang yang memukulimu, lahir dari keluarga harmonis, tidak harmonis, dan agak harmonis untuk ukuranmu. Akan tetapi mereka tidak paham apa yang sedang...

Suaramu

Apa itu kau? Suaramu yang memanggil-manggil aku supaya menoleh dan berdelusi Sekali lagi. Suaramu berhembus dari dasar telingaku, yang mudah bengkok dan tuli kerasukan percik air mandi. Itu kah kau? denging pesawat yang melintas terbang bersama burung-burung di atas ribuan kaki di antara lututku yang gemetar dan kerap kau curigai sebagai penumpang ilegal dijatuhkan ke bumi, demi mencicip lumpur dan mengulang-ngulang kata ganti gagal menghapal nama jalan-jalan, yang tak pernah lolos dari mata rautan Itu pasti suaramu yang samar-samar melambai-lambai hendak mengatakan, Hati-hati di jalan ya, tapi sebelah tanganmu adalah tongkat Musa yang mampu memisahkan laut merah. Di seberang jalan, suaramu terdengar terluka. Aku apalagi. Sekejap semuanya menjadi kramat tapi kau terus memanggil-manggil supaya aku terus terserap dan menggigil di balik jaketku, kau biarkan aku terseok-seok menyebrang jalan itu. [AW]

Menanti Kau yang Setengah Aku

setiap kali aku merasa aku manusia setengah laki-laki dan setengah ibuku adalah perempuan pertama yang kujumpai adalah tubuhmu, di pasar malam itu, kukira inilah hari terakhir ketika aku bisa memandangmu. lebih lama, perlahan-lahan kusipitkan kuintip kau kupejamkan mataku; sebuah desa tumbuh menyerupai kota kecil, lengkap dengan liuk dan orang-orangnya yang kerdil dan saling membelah terlalu banyak hingga menambahkan kemacetan di antara sungai-sungai, rumah salin, swalayan yang menyediakan highheel agar mereka bisa berpura-pura lebih tinggi, lebih bahagia karena bisa menjadi diri mereka. keheningan kehilangan kegiatan kata-katanya mencari teman menyanyi, tertiup angin suaranya ke arah yang tak pernah mampu kita cintai dengan sepadan sebagai celoteh atau candaan kekasih. lalu kau yang ceria dan setengah bersemangat membetulkan kedurungmu, memilih kata berangkat, sekarang! sementara aku mengutus diriku untuk mengusir rasa ingin tahuku yang gelisah di balik pintu kau menemukan kun...

Eskapis di Rumah Sakit

Yang Diinginkan Sembuh Kapada yang Sakit di rumah sakit. menunggui yang sakit. jubah suster cantik tak pernah bisa menggantikan pikiran-pikiranmu dengan remeh-temeh muasal kita dilahirkan hanya untuk tahu ketidaktahuan bagaimana sebaiknya kesedihan itu dibunyikan. Seperti derap langkah sepatu suster itu? Tak ada orang yang ingin membikin sajak dari suara gesekan antara rentetan mata runcing jarum suntik dan senyum di balik kain masker yang dikulum. di samping ranjang orang-orang bersandar pada harapan kelewat matang seperti bubur, yang menunggu diamalkan waktu kepada tisu waktu itu: kamu memilh menangis sebelum akhirnya kembali lagi sibuk mengisi teka-teki dengan barangkali-barangkali... dua anak kecil. berlarian tertawa, bertahan dari kepungan-kepungan sunyi sebelum langit mampu dinamai: hari esok yang biru seperti sendok pispot riuh jantungmu.. menunggui yang sakit meringkuk di kolong ranjang terantuk-antuk membaca buku harian hidupmu, ya...

Ia Ingin Naik Kelas

Ia ingin naik kelas. Tapi buku yang ia baca tak dapat ia jangkau hanya bisa ia eja: "a... b... a... d... d... a... r... a... h... l... u... k... a... Ah, susah ya!" Ia terpekur, mendongakkan kepala ke kusen jendela: serbuk kayu, rayap, bekas tempias dan warna biru yang dihisap cuaca. Ia pun kembali mengeja keras-keras "Es... A... Ye... A... Es... I... A... Pe... A... Aduh, bingung--" Ia mengurut kening huruf-huruf berdengung di dalam sana seolah-olah bunyi terlempar di dinding goa "Aku ingin naik kelas," ucapnya. Seperti doa. [es ha]

Menghentikan Pagi

Gambar
Ilustrasi : tentang laki-laki yang mencintai K Ia menghentikan pagi. Menghentikan pagi seperti menggunting rubrik puisi pada koran akhir pekan. Ke kotak suratmu ia kirimkan. Ia kirim sejuta potret hijau dan jernih cuaca 'Jadilah engkau bahagia,' ia berkata, sambil diam-diam ia tanggungkan isyarat itu lagi: tetes sisa hujan malam, di teritisan ketika terlambat matahari. [Es Ha]

Tuhan Membuat Sore

Gambar
Ilustrasi Sekumpulan orang letih berkemas dan bergegas untuk  pulang. 16.10 suara yang menikung  cukup riuh, iring-iringan delapan sepeda motor mengagetkan, meluncur pelan lalu berpencar Di sana, ada beberapa orang masih  berusaha keras merampungkan angan-angan memandangi batu-batu batu yang tadinya kering (bercakap-cakap tentang batu) sekarang memerah (kemudian mereka pergi)  Lalu tempat itu menjadi sepi, bukan kosong. riuh pun kita tidak akan (pernah) diizinkan menikmati percakapan kayu-kayu tembok-tembok semen, pasir, bata dan takdir. Topi yang tertinggal (atau sengaja ditinggal?) oleh pemiliknya pemilik yang sejak tadi tidak berhasil  menyalakan korek api pada akhirnya  mereka pulang:  orang-orang yang berusaha keras untuk tabah. [EB] 2017